EPC Itu Makhluk Apa?

Latar Belakang
Menurut UU No.18 tahun 1999 yang dimaksud dengan pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal dan tata lingkungan yang masing-masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain.

Dalam UU yang sama disebutkan bahwa jasa konstruksi adalah layanan jasa perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan konstruksi, yang masing-masing dikenal dengan sebutan konsultan perencana (jasa perencanaan), kontraktor (jasa pelaksanaan) dan konsultan MK – Manajemen Konstruksi (jasa pengawasan).

Pada era tahun 1990-an pembedaan fungsi dan tanggung jawab tersebut sangat kentara, bahkan seakan telah menjadi “dikotomi” diantara ketiganya. Pada masa itu umumnya perusahaan konstruksi memposisikan diri menjadi salah satu dari tiga fungsi tersebut. Sejalan dengan bertambahan kebutuhan dan berjalannya waktu, mulai banyak kontraktor yang menyediakan jasa konsultasi yang sering disebut dengan istilah design & built. Layanan design & built ini seakan “memotong” jalur birokrasi dan komunikasi antara perencana dengan pelaksana, sehingga menghemat waktu dan juga “biaya”.
Awal tahun 2000, sejalan dengan maraknya proyek pertambangan, lingkup pekerjaan kontraktor design & built ini bertambah lagi untuk melakukan penyediaan bahan atau alat tertentu yang dibutuhkan oleh proyek tersebut. Pengembangan metode ini kemudian dikenal sebagai EPC, yaitu Engineering (rekayasa/perencanaan), procurement (pembelian) dan construction (konstruksi). Metamorfosa menjadi EPC ini tidak hanya dilakukan oleh kontraktor, namun juga oleh konsultan. Bahkan tiga besar kontraktor EPC saat ini di Indonesia yaitu IKPT, Rekayasa Industri dan Tripatra awalnya adalah konsultan.

Jadi Apa EPC itu?
Menurut Pandri Prabono (Dirut Tripatra Engineering), EPC adalah kontraktor yang mendesain sampai dengan membeli peralatan serta membangun suatu fasilitas. Jadi berangkat dari nol, maka semuanya harus dilakukan oleh kontractor EPC.

Oleh karena itu kontraktor EPC ini unik karena klien (pemilik proyek) cukup mengatakan kebutuhan suatu fasilitas yang ingin dibangunnya di lokasi mereka, kontraktor EPC yang akan menyiapkannya sampai fasilitas tersebut dapat berfungsi. Engineering adalah mencari teknologi yang sesuai dan berlanjut mendesain aneka peralatan teknik untuk menerjemahkan teknologi tersebut, procurement adalah membelikan semua peralatan yang diperlukan itu dari berbagai sumber dalam dan luar negeri. Kemudian construction adalah menyambung dan membangun agar semua peralatan terhubung dan bisa bekerja sesuai desain. Dapat dikatakan sebuah kontraktor EPC memang harus menguasai banyak aspek, mulai dari sipil, arsitektur, kimia proses, listrik, mekanikal, dan lainnya.
Keunikan lainnya adalah bahwa kontraktor EPC harus mampu menghadapi tantangan non-teknis (namun dapat berakibat kepada sisi keteknikan), seperti akan membangun suatu fasilitas gas di suatu lokasi, kontraktor EPC harus mampu menterjemahkan keadaan yang mendukung fasilitas gas tersebut saat pembangunan maupun saat beroperasi nantinya, sehingga akses jalan, akses pelabuhan dan lainnya harus sudah diperhitungkan. Jangan sampai peralatan yang didesain tidak dapat dibawa ke site karena jalannya yang kekecilan atau karena ada halangan bentang jembatan yang terbatas dan lain-lainnya. Perlu pengalaman dan penguasaan lapangan dalam hal ini. Tidak cukup hanya kemampuan teknologi semata.

Saat ini memang sebagian besar proyek yang ditangani oleh kontraktor EPC adalah proyek-proyek bidang oil & gas atau pertambangan, namun bukan berarti tidak dapat diterapkan pada bidang lain. Sejalan dengan semakin banyaknya kebutuhan pembangunan fasilitas-fasilitas lainnya, jenis proyek yang ditangani oleh kontraktor EPC dapat lebih beragam.

Dilema
Ada hal yang menjadi bahan pembicaraan mengenai kecenderungan perusahaan konstruksi beralih menjadi kontraktor EPC, yaitu mengenai kesempatan berusaha bagi perusahaan-perusahaan konstruksi berskala kecil dan menengah. Seperti kita ketahui bersama, bahwa kemampuan untuk melakukan EPC hanya dapat dilakukan oleh perusahaan dengan modal kuat, karena beberapa proyek EPC menggunakan skema pembayaran turn key lump sum, yang memaksa kontraktor EPC berkecenderungan untuk melakukan penghematan dengan cara melakukan kegiatannya secara in house hampir pada seluruh bidang, yang tentunya akan menutup peluang perusahaan konstruksi kecil dan menengah untuk turut berkontribusi dalam proyek tersebut sebagai sub-contractor.

Nama-nama kontraktor EPC di Indonesia
1. AMEC Berca. Memiliki headquarter di UK. Perusahaan ini di Indonesia joint-venture dengan grup Berca. Project mereka saat ini banyak untuk TotalFinaElf (d/h Total Indonesie).

2. Bechtel Indonesia. Dulu memakai nama PT Purna Bina Indonesia.

3. Citra Panji Manunggal *). Spesialis di pipeline dan Stations.

4. Inti Karya Persada Teknik *). Secara ‘tradisi’ IKPT adalah ‘raja’nya LNG. Ini dikarenakan IKPT menerima banyak repeat order untuk train-train LNG PT Badak. IKPT adalah salah satu anak perusahaan dari grupnya Bob Hassan. Salah satu project mereka yang cukup besar adalah Ujung Pangkah Amerada Hess.

5. Kellog Brown and Root (KBR Indonesia). Adalah ‘branch’ KBR (giant group di bawah Halliburton) di Jakarta. Di South East Asia pusatnya di Singapore. Kalau tidak salah, KBR Jakarta mengerjakan banyak sub project baik dibawah KBR Singapore maupun Houston. Reputasi KBR di LNG (baik liquefaction maupun terminal) sudah tidak perlu diragukan lagi. In fact KBR ’sangat dekat’ dengan IKPT.

6. McDermott. McDermott perusahaan EPCI yang cukup memimpin dengan spesialisasinya di bidang manufacturing and service. Memiliki proyek yang umumnya merupakan industri energi dan pembangkit listrik. McDermott beroperasi di 23 negara dan memiliki lebih dari 20.000 karyawan.

7. Rekayasa Industri (Persero) *). Secara struktur sebenarnya berada di holding PT Pupuk Sriwijaya dan memang traditionally dikenal sebagaia ‘raja’ dan ’spesialis’ seluruh EPC fertilizer di Indonesia. Saat ini cukup expansif termasuk ‘menyerbu’ proyek proyek migas dan bio-diesel.

8. Saipem Indonesia. Berada di bawah grup ENI International (Italy) dan yang ada di Jakarta adalah hasil merger dengan Sofresid. Grup mereka berspesialis di platform dan offshore.

9. Technip Indonesia. Untuk South Eas Asia, Technip berpusat di Kuala Lumpur. Sebagai raksasa EPC dunia berbasis di Paris, Technip mengerjakan project-project di seluruh dunia mulai dari migas dan infrastructure.

10. Tripatra Engineering *). Dikenal sebagai perintis EPC di bidang migas, mendahului EPC lain di Indonesia termasuk mengerjakan giant NSO MobilOil dan jejak kaki mereka di Caltex sangat impresif. Tripatra didirikan oleh Pak Iman Taufik (perintis industri migas dan pendiri Guna Nusa). Tripatra saat ini merupakan anak usaha Indika Enegy.

11. WorleyParsons. Di Indonesia berbendera CeriaWorley. WorleyParsons adalah spesialis engineering dan sudah berkaliber internasional dan menangani mulai dari mining (core bisnis mereka di Australia) sampai infrastructure.
*) Perusahaan Lokal

Pos ini dipublikasikan di Konstruksi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s