Etika & Pengertiannya

Etika (ethics), secara etimologi berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu Ethos, yang dalam bentuk tunggal memiliki banyak arti: watak, perasaan, sikap dan cara berpikir, sedangkan dalam bentuk jamak dituliskan Ta Etha yang artinya adat kebiasaan (Bertens, 2002). Ada 2 (dua) teori besar mengenai etika ini, yaitu Utilitarism dan Deontologi.

Teori Utilitarism ini disistematisasikan oleh filsuf Inggris John Stuart Mill dalam bukunya On Liberty. Teori ini memandang segalanya berdasarkan asas kemanfaatan yang paling banyak membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Salah satu contoh implementasi dari teori ini adalah pemilu, dimana pemenang pemilu ditentukan oleh suara terbanyak. Teori ini juga ‘mengilhami’ perlakuan diskriminasi terhadap minoritas. Teori ini juga dikatakan sebagai konsekuensionalisme, dimana segala keputusan dilihat dari tinjauan konsekuensi (yang paling menguntungkan).

Teori Deontologi, adalah teori yang dijelaskan secara logis oleh filsuf Jerman yaitu Immanuel Kant. Kata deon berasal dari Yunani yang berarti kewajiban, sehingga dapat dikatakan bahwa teori ini menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu perbuatan akan baik apabila didasari atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban sudah melakukan kebaikan, tanpa memikirkan akibat atau konsekuensinya, atau dengan kata lain suara terbanyak bukanlah ukuran untuk menentukan kebaikan.
Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelas¬kan tentang pembahasan Etika, sebagai berikut: Terminius Techicus, bahwa etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia. Dan Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia. Etika dapat dijadikan sumber nilai dan agama (bukan agamanya, tapi aksesoris dari implementasi agama tersebut)
Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya; antara lain:
1. Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The principles of morality, including the science of good and the nature of the right)
2. Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human actions)
3. Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral seba¬gai individual. (The science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty)

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya. Etika bukan mengenai benar atau tidak benar, karena seringkali sesuatu hal yang benar dianggap tidak etis atau sebaliknya, sehingga perilaku tidak etis tidak dapat dihukum.

Etika & Etiket
Pengertian etiket dan etika sering dicampuradukkan, padahal ke¬dua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Istilah etika sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah berkaitan dengan moral (mores), sedangkan kata etiket adalah ber¬kaitan dengan nilai sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal atau merupakan kumpulan tata cara dan sikap baik dalam pergaulan antar manusia yang beradab.

Persamaan antara keduanya adalah mengenai perilaku manusia secara normatif yang etis. Artinya keduanya memberikan pedoman atau norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan.

(Dari berbagai sumber)

Pos ini dipublikasikan di Ethics. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s