Mengapa Memilih Jadi Kontraktor?

Industri konstruksi memegang peranan penting dalam perkembangan perekonomian suatu negara, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Pada periode 1974-2000, laju pertumbuhan rata-rata industri konstruksi Indonesia, mencapai 7.7%, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yaitu sebesar 5.47% (Van Dalen, 2003). Industri ini juga menyerap banyak tenaga kerja, yaitu mencapai 7% – 8% dari angkatan kerja nasional. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa industri konstruksi merupakan “lokomotif” perekonomian nasional (http://www.gapensi-online.com).

Namun, dalam perjalanannya sebagai bagian “lokomotif” perekonomian nasional, industri konstruksi pernah mengalami keterpurukkan hingga titik terendah dalam sejarah, saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998 yang lalu, yang menyebabkan industri konstruksi nasional mengali “mati suri’ sampai lebih dari 3 (tiga) tahun, sampai dengan tahun 2001 (www.tempo.co.id).

Seiring dengan mulai pulihnya perekonomian nasional, ditunjang oleh adanya kecenderungan menurunnya suku bunga perbankan, industri konstruksi mulai “bergerak” kembali; bahkan, pada tahun 2007, pertumbuhan industri konstruksi diperkirakan dapat mencapai 9.4% (Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia – Triwulan III tahun 2006). Pertumbuhan industri konstruksi ini, diperkirakan akan terus meningkat, sejalan dengan optimisme perbaikan ekonomi ke depan yang dibarengi dengan meningkatnya daya beli masyarakat.

Industri jasa konstruksi yang merupakan bagian dari industri konstruksi yang akan terpengaruh secara langsung dengan keadaan industri konstruksi nasional.  Ervianto (2003), menyatakan bahwa industri jasa konstruksi adalah industri yang bergerak dalam bidang material untuk konstruksi bangunan. Kegiatan yang termasuk di dalam industri ini antara lain meliputi usaha jasa perencanaan konstruksi, usaha jasa pelaksanaan konstruksi dan usaha jasa pengawasan konstruksi, yang masing-masing dilaksanakan oleh perencana konstruksi, pelaksana konstruksi dan pengawas konstruksi (UU No.18 Tahun 1999, mengenai jasa konstruksi, pasal 4 ayat 1). Masing-masing sektor dalam industri konstruksi saling berkait, saling menunjang dan saling melengkapi.

Meningkatnya pertumbuhan industri jasa konstruksi akan senantiasa diikuti pula dengan meningkatnya jumlah perusahaan penyedia jasa konstruksi terutama pelaksana konstruksi atau sering disebut kontraktor. Peningkatan jumlah kontraktor per tahun adalah sebesar 17%-20% (www.pu.go.id), sedangkan jumlah kontraktor yang ada sampai dengan tahun 2005 adalah 52.362 perusahaan (www.gapensi-online.com). Jumlah tersebut adalah adalah jumlah kontraktor yang tercatat menjadi anggota Gapensi (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia) atau baru sekitar 64.85% dari seluruh kontraktor di Indonesia (www.pajak.go.id).

Karakteristik industri pelaksana jasa konstruksi ini sangat spesifik dan sangat berbeda dengan industri-industri jasa lainnya (www.gapensi-online.com). Sifat spesifik tersebut ditandai oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Industri ini merupakan bisnis dengan risiko tinggi yang penuh dengan ketidakpastian dengan laba yang rendah.
  2. Pasar (market) sangat dikuasai oleh Pelanggan (buyer market), oleh karena kepentingan Pelanggan sangat dilindungi dengan adanya: konsultan pengawas, bank garansi, asuransi, prosedur kompetisi dan adanya sanksi-sanksi terhadap kontraktor, namun sebaliknya kepentingan kontraktor hampir tidak dilindungi sama sekali.
  3. Harga jual atau nilai kontrak bersifat sangat konservatif, sedangkan biaya produksi mempunyai sifat yang sangat fluktuatif.
  4. Kualitas standar dan jadwal waktu pelaksanaan ditetapkan oleh Pelanggan.
  5. Proses konstruksi yang selalu berubah akibat dari lokasi dan hasil karya perencanaan yang selalu berbeda karakteristiknya.
  6. Reputasi dari Kontraktor sangat mempengaruhi pengambilan keputusan dari Pelanggan.

Faktor-faktor tersebut di atas menunjukan bahwa kontraktor sebagai pelaksana jasa konstruksi memiliki posisi yang lemah dan selalu dikalahkan. Apalagi dengan banyaknya jumlah kontraktor ini yang disertai pula peningkatan jumlah kontraktor tiap tahunnya yang melebihi pertumbuhan industri konstruksi sendiri, menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara supply dan demand.

Tapi dengan resiko seperti tersebut di atas, mengapa orang-orang tetap banyak yang tertarik untuk menjadi kontraktor?

Pos ini dipublikasikan di Konstruksi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s