Wirausaha Bukanlah Pilihan

Menjadi seorang wirausahawan (entrepreneur) sering kali hanyalah sebuah ‘pelarian’ dari kegagalan memperoleh pekerjaan melalui jalur formal. Stigma ini menjadi semakin kuat karena banyak wirausahawan (yang sukses sekalipun), pada awalnya tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang pengusaha. Orientasi lulusan perguruan tinggi (PT) di Indonesia memang sebagian besar adalah bekerja (pada orang/perusahaan), sehingga tidak mengherankan setiap diadakan penerimaan pegawai ataupun job fair selalu penuh sesak dipenuhi oleh para lulusan PT.

Keterbatasan lapangan kerja baru di Indonesia, sedikit banyak disebabkan oleh keadaan perekonomian Indonesia yang belum pulih setelah badai krisis di tahun 1998. Banyak perusahaan atau pabrik yang menghentikan atau menutup usahanya pada tahun 1998-an, belum memulai kembali kegiatannya karena masih menyelesaikan hutang ataupun kewajiban terhadap pihak lain. Disamping itu serbuan barang-barang impor dari China dengan harga sangat murah dan mutu yang beragam, menyebabkan pemilik perusahaan atau pabrik memilih untuk putar haluan menjadi ‘reseller’ barang-barang impor dari China tersebut dibandingkan dengan memproduksinya.

Menurut data Business Development Center, setiap tahun jumlah fresh graduate di seluruh Indonesia adalah 2.784.000 dari 2.784 PT, padahal lapangan kerja baru yang tersedia hanya sekitar 75.000 setiap tahunnya. Sehingga bagi lulusan PT lainnya yang tidak terserap, sebagian memilih untuk menganggur atau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, sebagian memilih mencoba keperuntungan dengan menjadi wirausahawan. Hanya sebagian kecil saja dari lulusan PT yang langsung memutuskan untuk berwirausaha saat lulus. Kesan inilah yang menonjol dan terlihat di masyarakat, sehingga kemudian menjadi stigma bahwa lulusan PT yang memutuskan berwirausaha adalah orang-orang yang ‘tersingkir’.

Lepas dari stigma tersebut, sesungguhnya menjadi menjadi seorang wirausahawan bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan secara iseng. Menjadi seorang wirausahawan berarti memadukan perwatakan pribadi, keuangan dan sumber-sumberdaya di dalam lingkungannya. Wirausahawan adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumberdaya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses, termasuk di dalamnya mengambil risiko dan bagaimana menghasilkan kombinasi baru dengan cara memperkenalkan produk-produk atau proses-proses atau mengantisipasi pasar atau mengkreasikan tipe organisasi baru.

Dampak yang dihasilkan dari kegiatan wirausaha antara lain adalah dapat memindahkan sumber daya ekonomi dari wilayah yang kurang produktif ke wilayah yang lebih produktif untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar, dan semakin besar (Winarso Drajad Widodo, 2005). Oleh karena itu Pemerintah saat ini lebih mendorong masyarakat untuk menjadi wirausahawan di berbagai bidang, baik berupa usaha kecil menengah (UKM) ataupun mikro. Bahkan untuk menunjukan keseriusannya Pemerintah membentuk kementerian yang mengurusi UKM, melalui Keputusan Presiden RI No.58 Tahun 1993.

Dipublikasi di Entrepreneurship | Meninggalkan komentar

Entrepreneurship

Konsep entrepreneurship (kewirausahaan) memiliki arti yang luas. Salah satunya, entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kecakapan tinggi dalam melakukan perubahan, memiliki karakteristik yang hanya ditemukan sangat sedikit dalam sebuah populasi. Definisi lainnya adalah seseorang yang ingin bekerja untuk dirinya.

Kata entrepreneur berasal dari kata Prancis, entreprendre, yang berarti berusaha. Dalam konteks bisnis, maksudnya adalah memulai sebuah bisnis. Kamus Merriam-Webster menggambarkan definisi entrepreneur sebagai seseorang yang mengorganisir, memenej, dan menanggung risiko sebuah bisnis atau usaha.

Peter F. Drucker
Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different)

Thomas W. Zimmerer
Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari.

Andrew J. Dubrin
Seseorang yang mendirikan dan menjalankan sebuah usaha yang inovatif (Entrepreneurship is a person who founds and operates an innovative business).

Robbin & Coulter
Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled.

Definisi entrepreneurship dari ekonom Austria Joseph Schumpeter menekankan pada inovasi, seperti:
– Produk baru
– metode produksi baru
– pasar baru
– bentuk baru dari organisasi
Kemakmuran tercipta ketika inovasi-inovasi tersebut menghasilkan permintaan baru. Dari sudut pandang ini, dapat didefinisikan fungsi entrepreneur sebagai mengkombinasikan berbagai faktor input dengan cara inovatif untuk menghasilkan nilai bagi konsumen dengan harapan nilai tersebut melebihi biaya dari faktor-faktor input, sehingga menghasilkan pemasukan lebih tinggi dan berakibat terciptanya kemakmuran/kekayaan.

Dari definisi tentang Entrepreneurship diatas terdapat 3 tema penting yang dapat di identifikasi:
1. Pursuit of Opportunities
Entrepreneurship adalah berkenaan dengan mengejar kecenderungan dan perubahan-perubahan lingkungan yang orang lain tidak melihat dan memperhatikannya

2. Innovation
Entrepreneurship mencakup perubahan perombakan, pergantian bentuk, dan memperkenalkan pendekatan-pendekatan baru, yaitu produk baru atau cara baru dalam melakukan bisnis

3. Growth
Pasca-entrepreneur mengejar pertumbuhan, mereka tidak puas dengan tetap kecil atau tetap dengan ukuran yang sama. Entrepreneur menginginkan bisnisnya tumbuh dan bekerja keras untuk meraih pertumbuhan sambil secara berkelanjutan mencari kecenderungan dan terus melakukan innovasi produk dan pendekatan baru .
Istilah kewirausahaan pada dasarnya merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai risiko yang mungkin dihadapinya, maka definisi:
“Entrepreneurship is the result of a disciplined, systematic process of applying creativity and innovations to satisfy need and opportunities of the marketplace“.

Beda Entrepreneurship dan Usaha Kecil
Banyak orang menggunakan istilah entrepreneur dan pemilik usaha kecil bersamaan. Meskipun mungkin memiliki banyak kesamaan, ada perbedaan signifikan antara keduanya, dalam hal:

1. Jumlah Kekayaan Yang Tercipta
Usaha entrepreneurship menciptakan kekayaan secara substansial, bukan sekedar arus pendapatan yang menggantikan upah tradisional

2. Kecepatan mendapatkan kekayaan
Sementara bisnis kecil yang sukses dapat menciptakan keuntungan dalam jangka waktu yang panjang, entrepreneur menciptakan kekayaan dalam waktu lebih singkat, misalnya 5 tahun

3. Risiko
Risiko usaha entrepreneur tinggi; dengan insentif keuntungan pasti, banyak entrepreneur akan mengejar ide dan kesempatan yang akan mudah lepas.

4. Inovasi
Entrepreneurship melibatkan inovasi substansial melebihi usaha kecil. Inovasi ini menciptakan keunggulan kompetitif yang menghasilkan kemakmuran. Inovasi bisa dari produk atau jasa itu sendiri, atau dalam proses bisnis yang digunakan untuk menciptakan produk atau jasa.

Sumber:
http://www.quickmba.com/entre/definition/
http://mybusinessblogging.com/entrepreneur/2007/12/20/definisi-entrepreneurship/
http://putracenter.net/2008/12/23/definisi-kewirausahaan-entrepreneurship-menurut-para-ahli/

Dipublikasi di Entrepreneurship | Meninggalkan komentar

EPC Itu Makhluk Apa?

Latar Belakang
Menurut UU No.18 tahun 1999 yang dimaksud dengan pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal dan tata lingkungan yang masing-masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain.

Dalam UU yang sama disebutkan bahwa jasa konstruksi adalah layanan jasa perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan konstruksi, yang masing-masing dikenal dengan sebutan konsultan perencana (jasa perencanaan), kontraktor (jasa pelaksanaan) dan konsultan MK – Manajemen Konstruksi (jasa pengawasan).

Pada era tahun 1990-an pembedaan fungsi dan tanggung jawab tersebut sangat kentara, bahkan seakan telah menjadi “dikotomi” diantara ketiganya. Pada masa itu umumnya perusahaan konstruksi memposisikan diri menjadi salah satu dari tiga fungsi tersebut. Sejalan dengan bertambahan kebutuhan dan berjalannya waktu, mulai banyak kontraktor yang menyediakan jasa konsultasi yang sering disebut dengan istilah design & built. Layanan design & built ini seakan “memotong” jalur birokrasi dan komunikasi antara perencana dengan pelaksana, sehingga menghemat waktu dan juga “biaya”.
Awal tahun 2000, sejalan dengan maraknya proyek pertambangan, lingkup pekerjaan kontraktor design & built ini bertambah lagi untuk melakukan penyediaan bahan atau alat tertentu yang dibutuhkan oleh proyek tersebut. Pengembangan metode ini kemudian dikenal sebagai EPC, yaitu Engineering (rekayasa/perencanaan), procurement (pembelian) dan construction (konstruksi). Metamorfosa menjadi EPC ini tidak hanya dilakukan oleh kontraktor, namun juga oleh konsultan. Bahkan tiga besar kontraktor EPC saat ini di Indonesia yaitu IKPT, Rekayasa Industri dan Tripatra awalnya adalah konsultan.

Jadi Apa EPC itu?
Menurut Pandri Prabono (Dirut Tripatra Engineering), EPC adalah kontraktor yang mendesain sampai dengan membeli peralatan serta membangun suatu fasilitas. Jadi berangkat dari nol, maka semuanya harus dilakukan oleh kontractor EPC.

Oleh karena itu kontraktor EPC ini unik karena klien (pemilik proyek) cukup mengatakan kebutuhan suatu fasilitas yang ingin dibangunnya di lokasi mereka, kontraktor EPC yang akan menyiapkannya sampai fasilitas tersebut dapat berfungsi. Engineering adalah mencari teknologi yang sesuai dan berlanjut mendesain aneka peralatan teknik untuk menerjemahkan teknologi tersebut, procurement adalah membelikan semua peralatan yang diperlukan itu dari berbagai sumber dalam dan luar negeri. Kemudian construction adalah menyambung dan membangun agar semua peralatan terhubung dan bisa bekerja sesuai desain. Dapat dikatakan sebuah kontraktor EPC memang harus menguasai banyak aspek, mulai dari sipil, arsitektur, kimia proses, listrik, mekanikal, dan lainnya.
Keunikan lainnya adalah bahwa kontraktor EPC harus mampu menghadapi tantangan non-teknis (namun dapat berakibat kepada sisi keteknikan), seperti akan membangun suatu fasilitas gas di suatu lokasi, kontraktor EPC harus mampu menterjemahkan keadaan yang mendukung fasilitas gas tersebut saat pembangunan maupun saat beroperasi nantinya, sehingga akses jalan, akses pelabuhan dan lainnya harus sudah diperhitungkan. Jangan sampai peralatan yang didesain tidak dapat dibawa ke site karena jalannya yang kekecilan atau karena ada halangan bentang jembatan yang terbatas dan lain-lainnya. Perlu pengalaman dan penguasaan lapangan dalam hal ini. Tidak cukup hanya kemampuan teknologi semata.

Saat ini memang sebagian besar proyek yang ditangani oleh kontraktor EPC adalah proyek-proyek bidang oil & gas atau pertambangan, namun bukan berarti tidak dapat diterapkan pada bidang lain. Sejalan dengan semakin banyaknya kebutuhan pembangunan fasilitas-fasilitas lainnya, jenis proyek yang ditangani oleh kontraktor EPC dapat lebih beragam.

Dilema
Ada hal yang menjadi bahan pembicaraan mengenai kecenderungan perusahaan konstruksi beralih menjadi kontraktor EPC, yaitu mengenai kesempatan berusaha bagi perusahaan-perusahaan konstruksi berskala kecil dan menengah. Seperti kita ketahui bersama, bahwa kemampuan untuk melakukan EPC hanya dapat dilakukan oleh perusahaan dengan modal kuat, karena beberapa proyek EPC menggunakan skema pembayaran turn key lump sum, yang memaksa kontraktor EPC berkecenderungan untuk melakukan penghematan dengan cara melakukan kegiatannya secara in house hampir pada seluruh bidang, yang tentunya akan menutup peluang perusahaan konstruksi kecil dan menengah untuk turut berkontribusi dalam proyek tersebut sebagai sub-contractor.

Nama-nama kontraktor EPC di Indonesia
1. AMEC Berca. Memiliki headquarter di UK. Perusahaan ini di Indonesia joint-venture dengan grup Berca. Project mereka saat ini banyak untuk TotalFinaElf (d/h Total Indonesie).

2. Bechtel Indonesia. Dulu memakai nama PT Purna Bina Indonesia.

3. Citra Panji Manunggal *). Spesialis di pipeline dan Stations.

4. Inti Karya Persada Teknik *). Secara ‘tradisi’ IKPT adalah ‘raja’nya LNG. Ini dikarenakan IKPT menerima banyak repeat order untuk train-train LNG PT Badak. IKPT adalah salah satu anak perusahaan dari grupnya Bob Hassan. Salah satu project mereka yang cukup besar adalah Ujung Pangkah Amerada Hess.

5. Kellog Brown and Root (KBR Indonesia). Adalah ‘branch’ KBR (giant group di bawah Halliburton) di Jakarta. Di South East Asia pusatnya di Singapore. Kalau tidak salah, KBR Jakarta mengerjakan banyak sub project baik dibawah KBR Singapore maupun Houston. Reputasi KBR di LNG (baik liquefaction maupun terminal) sudah tidak perlu diragukan lagi. In fact KBR ’sangat dekat’ dengan IKPT.

6. McDermott. McDermott perusahaan EPCI yang cukup memimpin dengan spesialisasinya di bidang manufacturing and service. Memiliki proyek yang umumnya merupakan industri energi dan pembangkit listrik. McDermott beroperasi di 23 negara dan memiliki lebih dari 20.000 karyawan.

7. Rekayasa Industri (Persero) *). Secara struktur sebenarnya berada di holding PT Pupuk Sriwijaya dan memang traditionally dikenal sebagaia ‘raja’ dan ’spesialis’ seluruh EPC fertilizer di Indonesia. Saat ini cukup expansif termasuk ‘menyerbu’ proyek proyek migas dan bio-diesel.

8. Saipem Indonesia. Berada di bawah grup ENI International (Italy) dan yang ada di Jakarta adalah hasil merger dengan Sofresid. Grup mereka berspesialis di platform dan offshore.

9. Technip Indonesia. Untuk South Eas Asia, Technip berpusat di Kuala Lumpur. Sebagai raksasa EPC dunia berbasis di Paris, Technip mengerjakan project-project di seluruh dunia mulai dari migas dan infrastructure.

10. Tripatra Engineering *). Dikenal sebagai perintis EPC di bidang migas, mendahului EPC lain di Indonesia termasuk mengerjakan giant NSO MobilOil dan jejak kaki mereka di Caltex sangat impresif. Tripatra didirikan oleh Pak Iman Taufik (perintis industri migas dan pendiri Guna Nusa). Tripatra saat ini merupakan anak usaha Indika Enegy.

11. WorleyParsons. Di Indonesia berbendera CeriaWorley. WorleyParsons adalah spesialis engineering dan sudah berkaliber internasional dan menangani mulai dari mining (core bisnis mereka di Australia) sampai infrastructure.
*) Perusahaan Lokal

Dipublikasi di Konstruksi | Meninggalkan komentar

Etika & Pengertiannya

Etika (ethics), secara etimologi berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu Ethos, yang dalam bentuk tunggal memiliki banyak arti: watak, perasaan, sikap dan cara berpikir, sedangkan dalam bentuk jamak dituliskan Ta Etha yang artinya adat kebiasaan (Bertens, 2002). Ada 2 (dua) teori besar mengenai etika ini, yaitu Utilitarism dan Deontologi.

Teori Utilitarism ini disistematisasikan oleh filsuf Inggris John Stuart Mill dalam bukunya On Liberty. Teori ini memandang segalanya berdasarkan asas kemanfaatan yang paling banyak membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Salah satu contoh implementasi dari teori ini adalah pemilu, dimana pemenang pemilu ditentukan oleh suara terbanyak. Teori ini juga ‘mengilhami’ perlakuan diskriminasi terhadap minoritas. Teori ini juga dikatakan sebagai konsekuensionalisme, dimana segala keputusan dilihat dari tinjauan konsekuensi (yang paling menguntungkan).

Teori Deontologi, adalah teori yang dijelaskan secara logis oleh filsuf Jerman yaitu Immanuel Kant. Kata deon berasal dari Yunani yang berarti kewajiban, sehingga dapat dikatakan bahwa teori ini menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu perbuatan akan baik apabila didasari atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban sudah melakukan kebaikan, tanpa memikirkan akibat atau konsekuensinya, atau dengan kata lain suara terbanyak bukanlah ukuran untuk menentukan kebaikan.
Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelas¬kan tentang pembahasan Etika, sebagai berikut: Terminius Techicus, bahwa etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia. Dan Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia. Etika dapat dijadikan sumber nilai dan agama (bukan agamanya, tapi aksesoris dari implementasi agama tersebut)
Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya; antara lain:
1. Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The principles of morality, including the science of good and the nature of the right)
2. Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human actions)
3. Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral seba¬gai individual. (The science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty)

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya. Etika bukan mengenai benar atau tidak benar, karena seringkali sesuatu hal yang benar dianggap tidak etis atau sebaliknya, sehingga perilaku tidak etis tidak dapat dihukum.

Etika & Etiket
Pengertian etiket dan etika sering dicampuradukkan, padahal ke¬dua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Istilah etika sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah berkaitan dengan moral (mores), sedangkan kata etiket adalah ber¬kaitan dengan nilai sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal atau merupakan kumpulan tata cara dan sikap baik dalam pergaulan antar manusia yang beradab.

Persamaan antara keduanya adalah mengenai perilaku manusia secara normatif yang etis. Artinya keduanya memberikan pedoman atau norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan.

(Dari berbagai sumber)

Dipublikasi di Ethics | Meninggalkan komentar

Tender: Bukan Untuk Memilih ‘Kucing Dalam Karung’

Tender atau pelelangan pekerjaan (bidding), adalah salah satu sistim pengadaan barang atau jasa. Dalam kaitannya dengan jasa konstruksi, pelelangan pekerjaan umumnya dilakukan untuk menyeleksi pelaksana jasa konstruksi yang dilakukan oleh pemilik proyek (owner), untuk memperoleh pelaksana jasa konstruksi yang mampu melaksanakan pekerjaan sesuai persyaratan yang telah ditentukan dengan harga yang dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi mutu maupun waktu pelaksanaannya. Tender pekerjaan jasa konstruksi secara umum dapat dibagi menjadi 2 (dua) berdasarkan kepemilikannya, yaitu proyek yang dimiliki oleh Pemerintah, dan proyek yang dimiliki oleh swasta.

Tender Proyek Pemerintah
Tender proyek milik Pemerintah, harus mengacu pada Keputusan Presiden (Keppres) No.18 Tahun 2000 mengenai Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Bahan/Jasa Instasi Pemerintah, yang secara umum dapat dilakukan melalui 3 (tiga) cara, yaitu: Pelelangan umum, Pemilihan langsung dan Penunjukan Langsung.
Pelelangan umum yang dimaksud dalam Keppres No.18 Tahun 2000 adalah serangkaian kegiatan untuk menyediakan kebutuhan barang/jasa dengan cara menciptakan persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat, berdasarkan metode dan tata cara tertentu yang telah ditetapkan dan diikuti oleh pihak-pihakyang terkait secara taat asas sehingga terpilih penyedia barang/jasa terbaik.
Pemilihan langsung dan penunjukan langsung, dapat dilakukan apabila pelelangan umum sulit dilaksanakan, seperti target waktu yang singkat ataupun spesifikasi barang atau jasa yang hanya dapat dipenuhi oleh sedikit pemasok.
Sumber pendanaan ada kalanya mempengaruhi cara tender yang dipilih, misal untuk proyek-proyek yang didanai oleh pinjaman luar negeri umumnya harus dilakukan International Competitive Biding (ICB) dan harus melibatkan kontraktor internasional, atau walaupun pendanaan oleh pinjaman luar negeri, namun pesertanya dibatasi hanya kontraktor dalam negeri, atau yang dikenal sebagai Local Competitive Bidding (LCB). Adapun proyek-proyek yang didanai oleh APBN, APBD atau instansi BUMN, biasanya mengacu pada Keppres No.18 Tahun 2000 tersebut.

Tender Proyek Swasta
Ketentuan mengenai tender proyek milik swasta biasanya diatur sendiri oleh masing-masing pemilik, meskipun demikian, ketentuan tersebut tetap mengacu pada standar kontrak tertentu seperti Federation Internationale Des Ingenieurs Conseils (FIDIC), Joint Contract Tribunal (JCT) dari RIBA atau Article & Conditions of Building Contract (ACBC) dari Singapore/Hong Kong Institute of Architech.
Ada kalanya pemilik (owner) mengundang terlebih dahulu beberapa calon kontraktor untuk melakukan presentasi mengenai kemampuan dan juga portfolio dari masing-masing kontraktor sebelum diundang untuk mengikuti tender. Tahap ini sering disebut sebagai tahap pra-kualifikasi.
Berdasarkan cara pembukaan dokumen penawaran yang diajukan oleh peserta, tender dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu tender terbuka, dimana pembukaan dan bembacaan dokumen penawaran dari peserta tender dilakukan di depan seluruh peserta, sehingga masing-masing mengetahui harga penawaran pesaingnya. Sedangkan tender tertutup, adalah kebalikannya.
Kejujuran, fairness, kehati-hatian dan kesetaraan (apple to apple) adalah prinsip yang harus dipegang dalam penyelenggaraan lelang.

(Sumber: Buku Referensi Untuk Kontraktor – PT PP (Persero))

Dipublikasi di Konstruksi | Meninggalkan komentar

Mengapa Memilih Jadi Kontraktor?

Industri konstruksi memegang peranan penting dalam perkembangan perekonomian suatu negara, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Pada periode 1974-2000, laju pertumbuhan rata-rata industri konstruksi Indonesia, mencapai 7.7%, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yaitu sebesar 5.47% (Van Dalen, 2003). Industri ini juga menyerap banyak tenaga kerja, yaitu mencapai 7% – 8% dari angkatan kerja nasional. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa industri konstruksi merupakan “lokomotif” perekonomian nasional (http://www.gapensi-online.com).

Namun, dalam perjalanannya sebagai bagian “lokomotif” perekonomian nasional, industri konstruksi pernah mengalami keterpurukkan hingga titik terendah dalam sejarah, saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998 yang lalu, yang menyebabkan industri konstruksi nasional mengali “mati suri’ sampai lebih dari 3 (tiga) tahun, sampai dengan tahun 2001 (www.tempo.co.id).

Seiring dengan mulai pulihnya perekonomian nasional, ditunjang oleh adanya kecenderungan menurunnya suku bunga perbankan, industri konstruksi mulai “bergerak” kembali; bahkan, pada tahun 2007, pertumbuhan industri konstruksi diperkirakan dapat mencapai 9.4% (Laporan Kebijakan Moneter Bank Indonesia – Triwulan III tahun 2006). Pertumbuhan industri konstruksi ini, diperkirakan akan terus meningkat, sejalan dengan optimisme perbaikan ekonomi ke depan yang dibarengi dengan meningkatnya daya beli masyarakat.

Industri jasa konstruksi yang merupakan bagian dari industri konstruksi yang akan terpengaruh secara langsung dengan keadaan industri konstruksi nasional.  Ervianto (2003), menyatakan bahwa industri jasa konstruksi adalah industri yang bergerak dalam bidang material untuk konstruksi bangunan. Kegiatan yang termasuk di dalam industri ini antara lain meliputi usaha jasa perencanaan konstruksi, usaha jasa pelaksanaan konstruksi dan usaha jasa pengawasan konstruksi, yang masing-masing dilaksanakan oleh perencana konstruksi, pelaksana konstruksi dan pengawas konstruksi (UU No.18 Tahun 1999, mengenai jasa konstruksi, pasal 4 ayat 1). Masing-masing sektor dalam industri konstruksi saling berkait, saling menunjang dan saling melengkapi.

Meningkatnya pertumbuhan industri jasa konstruksi akan senantiasa diikuti pula dengan meningkatnya jumlah perusahaan penyedia jasa konstruksi terutama pelaksana konstruksi atau sering disebut kontraktor. Peningkatan jumlah kontraktor per tahun adalah sebesar 17%-20% (www.pu.go.id), sedangkan jumlah kontraktor yang ada sampai dengan tahun 2005 adalah 52.362 perusahaan (www.gapensi-online.com). Jumlah tersebut adalah adalah jumlah kontraktor yang tercatat menjadi anggota Gapensi (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia) atau baru sekitar 64.85% dari seluruh kontraktor di Indonesia (www.pajak.go.id).

Karakteristik industri pelaksana jasa konstruksi ini sangat spesifik dan sangat berbeda dengan industri-industri jasa lainnya (www.gapensi-online.com). Sifat spesifik tersebut ditandai oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Industri ini merupakan bisnis dengan risiko tinggi yang penuh dengan ketidakpastian dengan laba yang rendah.
  2. Pasar (market) sangat dikuasai oleh Pelanggan (buyer market), oleh karena kepentingan Pelanggan sangat dilindungi dengan adanya: konsultan pengawas, bank garansi, asuransi, prosedur kompetisi dan adanya sanksi-sanksi terhadap kontraktor, namun sebaliknya kepentingan kontraktor hampir tidak dilindungi sama sekali.
  3. Harga jual atau nilai kontrak bersifat sangat konservatif, sedangkan biaya produksi mempunyai sifat yang sangat fluktuatif.
  4. Kualitas standar dan jadwal waktu pelaksanaan ditetapkan oleh Pelanggan.
  5. Proses konstruksi yang selalu berubah akibat dari lokasi dan hasil karya perencanaan yang selalu berbeda karakteristiknya.
  6. Reputasi dari Kontraktor sangat mempengaruhi pengambilan keputusan dari Pelanggan.

Faktor-faktor tersebut di atas menunjukan bahwa kontraktor sebagai pelaksana jasa konstruksi memiliki posisi yang lemah dan selalu dikalahkan. Apalagi dengan banyaknya jumlah kontraktor ini yang disertai pula peningkatan jumlah kontraktor tiap tahunnya yang melebihi pertumbuhan industri konstruksi sendiri, menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara supply dan demand.

Tapi dengan resiko seperti tersebut di atas, mengapa orang-orang tetap banyak yang tertarik untuk menjadi kontraktor?

Dipublikasi di Konstruksi | Meninggalkan komentar

Marketing Kamuflase Dalam Strategi Pemasaran

Perilaku etis penting diperlukan untuk meraih sukses dalam sebuah bisnis. Walaupun hal ini sudah disadari dan dimengerti oleh para pebisnis, namun pada kenyataannya banyak pemasar (marketer) tidak mengidahkan hal tersebut. Pemasar lebih berpeluang untuk melakukan tindakan melanggar etika karena adanya tuntutan untuk menyeimbangkan target penjualan perusahaan dengan kebutuhan konsumen.

Sehingga untuk memenuhi tuntutan tersebut, seorang pemasar sering melakukan tindakan yang kurang atau bahkan tidak etis, seperti melakukan strategi marketing kamuflase. Strategi ini dilakukan untuk membingungkan konsumen dan pada akhirnya konsumen akan melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan.

Marketing Kamuflase

Pengertian gramatikal dari kamuflase adalah perubahan bentuk, rupa, sikap, warna dan sebagainya; menjadi lain agar tidak dikenali; penyamaran; pengelabuan (Kamus Besar Bahasa Indonesia – KBBI, hal. 499). Tidak berbeda dengan arti gramatikalnya, yang dimaksud dengan marketing kamuflase (camouflage marketing) adalah usaha dari pemasar dalam memasarkan suatu produk kepada konsumen dengan melakukan tindakan atau perilaku yang mirip dengan produk pesaingnya yang biasanya adalah market leader (Theodore Levitt, Innovative Immitation). Strategi ini dilakukan karena merupakan sebuah jalan pintas (short cut) yang ampuh untuk mencuri perhatian konsumen.

Strategi ini adalah merupakan bagian dari strategi imitasi yang sering dilakukan oleh follower. Strategi imitasi produk barangkali dapat menjadi strategi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan strategi inovasi yang membutuhkan biaya yang lebih besar dan waktu yang lebih lama. Hal inilah yang membuat follower memilih untuk menjalankan strategi imitasi.

Dalam pemasaran, para pemasar dari produk follower menggunakan istilah yang sama dengan produk market leader untuk menyamarkan produk mereka dengan lingkungan sekitar, terutama ketika bertarung di pasar modern. Sehingga apabila produk market leader telah memiliki banyak rak di retailer-retailer, maka sang follower akan memiliki kesempatan untuk menyamarkan produk mereka.

Ada beberapa kejadian yang diharapkan dari para follower dengan melakukan marketing kamuflase ini yaitu:

  1. Adanya harapan bahwa konsumen salah dalam membeli produk. Contohnya adalah banyaknya taxi (cab) yang berwarna dan berlogo mirip sekali dengan taxi Blue Bird.
  2. Adanya harapan, konsumen akan melakukan perbandingan harga sebelum melakukan pembelian. Packaging yang mirip dapat menciptakan persepsi bahwa isinya sama dalam soal rasa dan kualitas. Konsumen yang price sensitive kemudian akan memilih produk follower karena umumnya follower menawarkan harga yang lebih rendah.
  3. Adanya harapan bahwa konsumen akan berpikir bahwa produk follower adalah turunan atau masih satu ‘saudara’ dengan merek lain, hal ini mengingat biasanya perusahaan memiliki warna korporat tertentuyang secara konsiten diterapkan pada setiap merek mreka dan turunannya.

Keuntungan yang diperoleh follower dengan melakukan marketing kamuflase ini adalah terjadinya pembentukan awareness terutama jika produk tersebut menggunakan merek atau kemasan yang mirip-mirip atau dimirip-miripkan.

Kebingungan konsumen memang menjadi alasan yang paling utama dari marketing kamuflase. Itu sebabnya kamuflase sering dikatakan sebagai strategi merek yang kurang percaya diri. Biasanya kamuflase dilakukan oleh merek-merek yang tidak memiliki biaya promosi yang besar atau bahkan tidak melakukan promosi sama sekali. Mereka lebih berharap mereknya dapat menempel pada merek lain di pasaran.

Disamping adanya keuntungan, setidaknya ada 2 (dua) alasan mengapa orang melakukan marketing kamuflase menurut Steven Schnaars (2002), yaitu:

Playing Catch Up, mengejar ketertinggalan, karena gagal menemukan produk baru yang inovatif sehingga membuat produk dari produsen lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Watchful Waiting, adanya kesempatan untuk memasukan produk mereka ke pasar.

Dalam buku “Managing Imitation Strategies” (Schnaars, Steven P; Free Press:2002) disebutkan bahwa maketing kamuflase dapat dibagi menjadi 4 (empat) model, yaitu:

1. Counterfeits/Product Pirates, adalah produk kembar yang memakai merek dagang yang sama seperti aslinya. Ini adalah usaha perampokan. Murni illegal. Sering juga disebut dengan pemalsuan merek atau pembajakan.

2. Knockoff/Clones, adalah produk yang benar-benar meniru produk aslinya (terutama kemasan dan merek) sama sekali, hal ini dimungkinkan karena tidak ada pendaftaran paten atau merek terhadap produk aslinya. Hal ini sering terjadi pada produk-produk tradisional. Mungkin apabila di Indonesia seperti produk tradisional petis, kerupuk udang, dodol garut, telur asin dan sebagainya.

3. Design Copies/Trade Dress, adalah menjual gaya, design fashion dari produk populer pesaing. Karena ditekankan pada gaya dan fashion maka, produk imitasi ini mengabaikan hal teknologi atau inovasi. Contoh sepatu olah raga.

4. Creative Adaptations, mengambil produk yang telah ada, lalu meningkatkan atau mengadaptasikan dengan segmen produk yang baru.

Dari ke-empat model di atas, hanya counterfeits/product pirates saja yang dapat dijerat hukum, hal ini karena  knockoff/clones, design copies/trade dress maupun creative adaptions berada pada wilayah abu-abu dalam koridor hukum di Indonesia.

Market Leader-pun Melakukan Marketing Kamuflase

Walaupun kebingungan konsumen terhadap praktek marketing kamuflase ini tidak menyebabkan konsumen terkecoh kemudian serta merta membeli produk tersebut. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Prof. Murray Tong, dari Guelph University Canada, yang menyatakan bahwa 80% konsumen sadar bahwa produk yang biasa mereka beli telah ditiru kemasannya oleh produk pesaing (Rahmat Susanta, Majalah Marketing, November 2004).

Namun ternyata bukan hanya follower saja yang melakukan marketing kamuflase. Market leader pun dapat terpancing untuk melakukan strategi yang sama, terutama apabila mereka (market leader) kurang percaya diri menghadapi kompetitor atau pendatang baru. Sehingga akhirnya terjadi fighting brand. Kasus yang sering dijadikan contoh adalah perseteruan antara Super mie Sedaaap (Indofood) dengan Mie Sedaap (Wings). Disini Indofood sebagai market leader mie instant dalam kemasan, merasa perlu melakukan kamuflase pada salah satu produknya yaitu super mie untuk menghambat sepak terjang pendatang baru yang ‘mengusik’ keberadaan Indofood sebagai market leader. Apabila kita coba tengok ke belakang, keberadaan Mie Sedaap juga pada awalnya adalah kamuflase pada kemasan mereka menyerupai kemasan Indo mie.

Marketing kamuflase bukan tanpa resiko. Resiko yang dapat dialami oleh follower kamuflase adalah bahwa setiap tindakan promosi yang dilakukan follower justru hanya akan meningkatkan awareness dan penjualan market leader.

Penutup

Persaingan usaha dari hari ke hari semakin ketat, banyak strategi marketing tercipta ataupun diciptakan untuk menyiasati hal ini. Berbagai cara dilakukan pemasar untuk menarik perhatian konsumen yang pada akhirnya konsumen akan memutuskan untuk membeli produk tersebut.

Marketing kamuflase adalah salah satu strategi tersebut yang secara sadar ataupun tidak telah dilakukan oleh para pemasar di Indonesia apapun bidang usaha yang dilakukan, termasuk konstruksi. Strategi ini berada pada wilayah abu-abu (grey area) dalam koridor hukum di Indonesia, karena belum ada satupun pelaku marketing kamuflase ini yang dinyatakan bersalah secara hukum. Koridor yang paling mungkin dilakukan hanyalah etika pemasar dalam mengambil strategi pemasarannya.

Dipublikasi di Ethics | Meninggalkan komentar